Oleh: iptij | 14 September, 2007

Memulai ramadhan dengan Niat Yang Bersih

Ungkapan “innama al ‘amalu bi anniyyah “( Sesungguhnya suatu amal itu bergantung pada niyatnya), sering kita dengar. Sehingga jelas niat memegang peranan penting untuk menentukan diterimanya aktivitas amalan seseorang. Tapi niat ini munculnya di dalam hati kita. Orang Sunda sering bilang “geretekna hate” (tergeraknya hati). Karena munculnya hanya di dalam hati, ia tidak akan pernah diketahui oleh orang lain. Kita pun tidak bisa membohongi diri sekalipun kita mengucapkan berulang kali niat yang berbeda dengan lisan kita. Apa yang lazim diucapkan mulut hanyalah usaha demi mengingatkan hati akan niat yang lurus.

Niat akan menimbulkan motivasi. Motivasi akan memberikan energi pada seseorang untuk sabar dalam beramal . Seorang anak kecil yang polos bilang bahwa dia akan ikut berpuasa di bulan Ramadhan karena dijanjikan mendapat hadiah sepeda baru. Niat dia berpuasa ditujukan agar bisa mendapat sepeda baru. Bagaimana dengan kita ?

1. Mencari ridho Ilahi

Ridho atau rela ini muncul sebagai buah dari cinta. Seorang isteri yang ridho kepada suami yang dicintainya, misalnya, akan rela untuk melakukan apa saja tanpa reserve untuk memenuhi permintaan sang kekasih. Alangkah beruntungnya jika Allah sudah ridho kepada seorang hambanya. Segala keinginan dan doanya akan terpenuhi, termasuk surga yang selalu kita tuju. Sebab masuk surga sebenarnya bukan karena amalan kita, tapi semata-mata karena keridhoan Allah yang telah melimpahkan rahmat karunianya.

Dari Abu Hurairah, beliau Rasulullah berkata: “Mendekatlah dan berusahalah benar! Ketahuilah, bahwa setiap orang diantara kalian tidak bakal selamat karena amalnya.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, tidak juga engkau?” Rasulullah bersabda: “Tidak juga aku, kecuali bila Allah melimpahiku dengan rahmat dan karunia dari-Nya.” (Hadits Shohih Muslim Oleh KH.Adib Basri Mustafa hal. 819 no. 76)

Tapi suatu syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan ridho Allah ini ialah kita pun harus ridho kepada segala perintah Allah. Dalam surat Al Bayyinah disebutkan “Radhiyallhu anhum wa radhu anhu” (Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepadaNya).

Jadi, jika shaum kita diniatkan untuk mencari ridho Allah, otomatis kita akan berusaha ridho/rela untuk melaksanakan semua perintah Allah diantaranya shaum Ramadhan dan ibadah di bulan puasa ini. Puasa kita akan selalu dijaga agar tidak dikotori oleh hal-hal yang tidak disenangi Allah. Bukankah puasa ini diniatkan untuk menarik kecintaan Allah, bukan semata menggenapkan hari-hari berpuasa dalam sebulan. Insya Allah keridhoan Allah dengan sendirinya akan turun.

Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam,

Barangsiapa yang mencari ridha Allah meski dengan dibenci manusia, maka Allah akan ridha dan akhirnya manusia juga akan ridha kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi 2419 dan dishashihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ 6097).

2. Mengharap pahala yang besar

Semua amal manusia adalah miliknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya (H.R. Bukhari).

Dari Abu Sa’id Al-Khudri -radhiyallahu ‘anhu- ia berkata: “Saya mendengar Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: ‘Siapa yang berpuasa satu hari fi sabilillah maka Allah SWT akan menjauhkan wajahnya dari surga sejauh 70 tahun'”. (Muttafaqun ‘alaih).

Dari Abdullah bin ‘Amr -radhiyallahu ‘anhu- bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Puasa dan Al-Qur’an memberi syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat, puasa berkata: “Wahai Tuhanku! Saya telah mencegahnya dari makan dan syahwa di siang hari, oleh karena itu terimalah syafaat saya untuknya!”. Lalu Al-QUr’an berkata: “Wahai Tuhanku, saya telah memcegahnya dari tidur di malam hari, oleh karena itu, terimalah syafaat saya untuknya!”. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Lalu syafaat keduanya diterima Allah SWT”. (H.R. Ahmad).

Dari Sahl -radhiyallahu ‘anhu dari nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya di surga ada satu pintu bernama Al-Rayyan, dari pintu ini akan masuk orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat, tidak ada siapapun selain mereka yang akan memasuki pintu ini, dikatakan (diserukan): Mana orang-orang yang berpuasa? Lalu mereka semua berdiri, tidak ada seorang pun selain mereka yang memasuki pintu ini, jika orang-orang yang berpuasa telah masuk, maka pintu itu ditutup, sehingga tidak ada seorang pun selain mereka yang memasukinya”. (Muttafaqun ‘alaih).

3. Mengharap ampunan dosa-dosa kita

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- ia berkata: “Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: ‘Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan karena mengharap pahala di sisi Allah SWT, maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni'”. (Muttafaqun ‘alaih).

Sabdanya pula: “Barangsiapa melaksanakan shaum Ramadhan dengan dasar iman dan penuh perhitungan (mengharap ridha Allah SWT) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR.Ahmad).

Iklan

Responses

  1. materi dakwahnya cocok menjelang puasa, sekalian saya mau tanya kalau kita punya niat baik lalu kita ucapkan pada orang2 terdekat kita dgn tujuan untuk menambah motivasi dan komitmen atas niat kita hukunnya bagaimana? tolong onfonya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: